Hiển thị các bài đăng có nhãn East Java. Hiển thị tất cả bài đăng
Hiển thị các bài đăng có nhãn East Java. Hiển thị tất cả bài đăng

Thứ Sáu, 26 tháng 9, 2014

Tips and Travel Itinerary to Bawean Island

Almost sunset
Apa itu Bawean dan dimana?

Yang jelas bukan nama kue atau jenis gorengan. Bawean adalah sebuah pulau kecil yang berada di Laut Jawa. Di tengah-tengah pulau Kalimantan dan Jawa, tepatnya di sebelah utara Gresik, Jawa Timur.

What is Bawean and where is it?

First thing, it is not kind of cakes or fritters. It's an isle in the middle of Java Sea, between Borneo and Java. Just at the north of Gresik, East Java.


Right here, bro!
Ada apa di sana?

Sudah jelas, daya tarik utama Bawean adalah pantai-pantainya yang masih "perawan". Air laut di sekitarnya pun terlihat biru bening. Panorama persawahan luas yang menguning mendominasi di bagian dalam pulau. Danau Kastoba, danau mistis yang dikelilingi pepohonan rimbun ini berada di puncak bukit. Suasana hening di sini bisa bikin bulu kuduk jabrik.

Wisata utama lainnya adalah Penangkaran Rusa Bawean. Di sini kita bisa bertemu secara langsung sama hewan endemik Pulau Bawean yang terancam kepunahan, yaitu Axis Kuhlii atau Rusa Bawean.

Namun, highlight utama Bawean ternyata nggak ada di sana. Bohongin kita, nih!!
Tenang-tenang... wisata utamanya memang berada di luar pulau Bawean, tepatnya di Pulau Noko. Pulau pasir seluas lapangan bola ini memang spesial. Berdiri di atas dataran pasir di tengah laut sambil menikmati pemandangan Laut Jawa adalah momen puncak selama perjalanan di Bawean.

Wisata selengkapnya:
http://baweantourism.com/products/2/0/PLACES-OF-INTEREST/

What's in there?

Obviously, Bawean main attraction is the "virgin" beaches. The sea water around looks blue as clear as crystal. Vast panorama of yellowing rice fields dominate inside of the island. Kastoba Lake, this mystical lake surrounded by lush trees is located on the hilltop. Silence and chilling sensation here will make goosebumps in no seconds.

The other main spot is Bawean hog deer sanctuary. In here, we can witness closely a highly threatened deer species found only in Bawean island, also known as Axis Kuhlii or Bawean Hog Deer.

However, the main highlight isn't there. So, we've been fooled after all!!
Be calm... the main spot is actually located outside of Bawean island, precisely in the island of Noko. This soccer field-wide sand island is truly special. Standing on beach sand in the middle of the sea while enjoying the view of Java Sea is the climax moment during my trip in Bawean.

More places of interest:
http://baweantourism.com/products/2/0/PLACES-OF-INTEREST/

Surrounded by yellow and green
That chilling sensation (Kastoba Lake)
Axis Kuhlii
The climax
Bagaimana cara menuju ke sana?

Untuk menuju ke Bawean kita anggap titik awal ada di kota Surabaya. Mudah saja bagi kalian yang tinggal di pulau Jawa. Banyak pilihan transportasi darat dengan harga terjangkau, seperti bis antar provinsi dan kereta api. Namun, jika Anda orang kantoran dengan jumlah libur pelit, maka pesawat menjadi pilihan tepat. Ada banyak maskapai lokal yang melayani penerbangan dari kota-kota besar di Indonesia menuju Surabaya.


Dari Surabaya, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Gresik-Bawean. Cara murah (Rp6.000 - Rp8.000) yaitu dengan naik angkutan umum (angkot) berwarna biru telur asin, yang dapat ditemukan berlalu-lalang di depan stasiun Pasar Turi. Waktu normal sekitar 1 setengah jam sudah sampai di depan gerbang masuk pelabuhan.

Untuk menuju Pulau Bawean ada 3 pilihan kapal ferry dengan jadwal, kecepatan, dan kapasitas yang berbeda-beda.

How to get there?

To get to Bawean, we choose the starting point at Surabaya. It will be easy if you live in Java island. Many options to choose land transportation in affordable price, such as inter-province bus and train. But, if you are an office guy with less holiday, so airplane is the right choice for you. There are many local airlines with flight service from big cities in Indonesia to Surabaya.

From Surabaya, journey continues to port of Gresik-Bawean. Cheap way (Rp6.000 - Rp8.000) is by riding public transportation (angkot) in turquoise colour. It can be seen passing in front of Pasar Turi train station. It's about 1 and half hour to get to port entrance gate in normal time.

To reach Bawean island there are 3 options of ferries with different schedule, speed and capacity.

Following is the schedule of ferries departure and arrival Java - Bawean - Java:
Berikut jadwal keberangkatan dan tiba ferry P. Jawa - Bawean - P. Jawa:

(Source: baweantourism.com)
Harga tiket:
A. Express Bahari & Natuna Express:
     - VIP    : Rp176.500,-
     - Exc    : Rp161.500,-
(Harga Desember 2015) 

Lokasi Pembelian Tiket Express Bahari:
– Kantor Bahari Ekspress Cabang Gresik
Jl. Pahlawan no. 36 Gresik
Telp: 031-3983600


- Kantor Bahari Ekspress Cabang Bawean
Jl. Dermaga no. 8 Sangkapura
Telp: 0325-422257


Lokasi Pembelian Tiket Natuna Express:
– Kantor Natuna Ekspres Gresik
Jl. Panglima Sudirman no. 177 Gresik
Telp: 031-3976444


– Kantor Natuna Ekspres Bawean
Dermaga Sangkapura depan mini market Indra Jaya
Telp: 081332749731


B. Gili Iyang: Rp 87.000,-
Tiket bisa dibeli langsung di pelabuhan.
(Harga September 2014)

Express Bahari melayani perjalanan yang lebih cepat, namun kapasitasnya lebih sedikit. Sedangkan Gili Iyang memiliki muatan lebih besar dan tentunya waktu tempuh bisa sampai 7 jam lebih. Bila Anda membawa kendaraan sendiri dari pulau Jawa, maka Gili Iyang adalah pilihan satu-satunya.

Info update dari orang Bawean: Natuna Express gratis khusus orang sakit (Amit-amit, dah!)

Harap diperhatikan! Gili Iyang berlabuh di Paciran yang lokasinya jauh dari Gresik dan Surabaya. Dulu saya sempat terkecoh karena kurangnya info. Namun, untungnya saya sempat dapat tumpangan hingga Gresik.

---------------------------------------------------------------------

Ticket prices:
A. Express Bahari & Natuna Express:
     - VIP         : Rp176.500,-
     - Exc         : Rp161.500,-
(Price Desember 2015)

Express Bahari ticket location:
– Bahari Ekspress Office Gresik
Jl. Pahlawan no. 36 Gresik
Telp: 031-3983600


- Bahari Ekspress Office Bawean
Jl. Dermaga no. 8 Sangkapura
Telp: 0325-422257


Natuna Express ticket location:
– Natuna Ekspres Office Gresik
Jl. Panglima Sudirman no. 177 Gresik
Telp: 031-3976444


– Natuna Ekspres Office Bawean
Sangkapura port in front of Indra Jaya Mini Market
Telp: 081332749731
B. Gili Iyang: Rp 87.000,-
Ticket can be purchased at the port.
(Price September 2014)

Express Bahari goes faster than the others, but less in capacity. Meanwhile, Gili Iyang can load more passengers itself, but it spends 7 hours or more trip instead. If you bring your own vehicle from Java, so Gili Iyang is the only choice given.

Update info from the locals: Natuna Express is free for someone who suffered an illness (God forbid!)

Please note! Gili Iyang disembark at Paciran Port which is far away from Gresik and Surabaya. I was fooled last time due to lack of information. But, luckily I got a ride to Gresik.

Express Bahari (Source: sejarahpulaubawean.blogspot.com)
Natuna Express (Source: bawean.net)
  
Exclusive photos of Gili Iyang

At Bawean
Waiting to Depart (port of Gresik)
The Upper Deck
Canteen look alike
This is How We Sleep
VIP Room
Nginap di mana di sana?

Saya melihat ada beberapa penginapan/hotel di sekitar pelabuhan baru Sangkapura dengan harga yang cukup layak. Salah satu rekomendasi saya adalah Hotel Intan. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1 km dari pelabuhan.

Tersedia 12 kamar double/single bed dengan AC/Fan. 1 orang per malamnya Rp250.000,- (harga Desember 2015).

4 kamar mandi berada di luar. Tersedia pula air minum, teh, dan kopi gratis. Yang saya suka dari hotel ini adalah karena pemiliknya juga tinggal di rumah ini di lantai 1, jadi kebersihannya selalu terawat.

CP: Hotel Intan: 08113342167 / 081332994555 (Ibu Hajiwi)

Selengkapnya dapat dilihat di link ini:
http://baweantourism.com/product/0/11/Intan-Hotel

Where to stay?

I saw there are some inns/hotels around the new Sangkapura Port with reasonable prices. One of my recommendation is Intan Hotel. It isn't too far, just about 1 km from the port.

12 bedrooms available double/single bed with AC/Fan. Rp250.000,- for 1 person/night (price December 2015).

4 bathrooms outside. There are also drinking water, tea, and coffee for free. What I like about this hotel is because the owners also live in this big house on the 1st floor. So the cleanliness can be always maintained.

CP: Hotel Intan: 08113342167 / 081332994555 (Ibu Hajiwi)

For more details about hotels can be seen here:
http://baweantourism.com/product/0/11/Intan-Hotel




Front side (Intan Hotel) (Source: baweantourism.com)
Bedroom (Intan Hotel) (Source: enikoesuma.blogspot.com)
Hall (Intan Hotel) (Source: enikoesuma.blogspot.com)
Lounge (Intan Hotel) (Source: enikoesuma.blogspot.com)
Balcony Lounge (Intan Hotel) (Source: enikoesuma.blogspot.com)

Tips & info penting dan nggak penting:



UPDATE!!!
- Akhir Januari 2016, bandara Harun Thohir sudah beroperasi. Rute sementara Juanda (Surabaya) - Harun Thohir (Bawean). Pesawat kecil dengan kapasitas 15 penumpang, 2 kali dalam seminggu (Selasa dan Kamis).
https://m.tempo.co/read/news/2016/01/30/058740819/menteri-jonan-resmikan-bandara-harun-thohir-pulau-bawean 

- Harga sewa peralatan snorkel:
http://www.baweantourism.com/products/109/0/SNORKEL-GEAR-RENT/ 

- Wajib sewa atau bawa kendaraan sendiri (motor atau mobil) karena nggak ada angkutan umum.

- Di sini nggak ada pom bensin (SPBU). Sebagai gantinya, bensin dijual secara eceran di warung-warung (Maret 2014).

- Penunjuk jalan menuju tempat-tempat wisata hampir nggak ada. Oleh karena itu, lebih baik didampingi oleh guide lokal jika Anda nggak mau kehabisan waktu karena tersesat.

- Motor nggak di kunci dan kuncinya dibiarkan menggantung begitu saja?! Nggak masalah.


Important and unimportant tips & info:

UPDATE!!!
- In end of January 2016, the airport Harun Thohir has been operating. Route is Juanda airport (Surabaya) - Harun Thohir (Bawean). Small plane with about 15 passengers capacity, twice in a week (Tuesday and Thursday).
 https://m.tempo.co/read/news/2016/01/30/058740819/menteri-jonan-resmikan-bandara-harun-thohir-pulau-bawean

- Snorkel gear rent:
http://www.baweantourism.com/products/109/0/SNORKEL-GEAR-RENT/ 

- You have to rent or bring your own vehicle (motorbike or car) because there are no public transport there.

- You can't find gas station here. In other wise, fuels sold at the mini stalls (March 2014).

- Road signs to the tourism spots are almost nowhere to be seen. So, it will be better accompanied by local guide if you don't want run out of your time due to lost.

- I didn't lock my bike and the key is still hanging on the bike?! No big deal.



Contoh itinerary:

Jumat malam ambil feri Gili Iyang yang jam 9 malam dari pelabuhan Gresik. Perjalanan di laut ini cukup lama hingga keesokan paginya, jadi saya anjurkan manfaatkan waktu malam untuk tidur di feri.

Hari pertama di Bawean: Pagi buta tiba di Bawean dan langsung menuju ke penginapan untuk check-in dan beres-beres. Begitu keluar dari penginapan, perjalanan dimulai dengan mengunjungi penangkaran Rusa Bawean dahulu. Kemudian dilanjutkan mengunjungi Danau Kastoba, air terjun, dan pantai-pantai lainnya. Target hari pertama minimal berkendara mengelilingi lingkar luar Bawean.

Hari kedua: Hopping island ke Pulau Gili, Pulau Noko, dan pulau-pulau lainnya. Dan bila masih ada sisa waktu di sore atau malam harinya, cobalah berkunjung ke pusat alun-alun kota yang ramai saat weekend.

Hari ketiga: Bersiap-siap untuk kembali ke Gresik dengan kapal Express Bahari jam 9 pagi.


Example itinerary:

On Friday night, take Gili Iyang ferry at 9 PM from port of Gresik. The voyage is long enough until next morning. So, I suggest you to use your time for sleep on board.

First day in Bawean: Arrive at Bawean in early morning and go to hotel/inn for check-in and make some preparations before the journey. After get ready, the journey begins with a visit to Bawean Hog Deer Sanctuary first. Then continue to visit the Kastoba Lake, some waterfalls, and beaches. The first day main target is at least driving around the Bawean outer ring road.

Second day: Hopping island to Gili Island, Noko Island, and the other islands. And if there is still time left in the evening and night, why don't try to visit the town square which is crowded at weekend.

Third day: Get ready to go back to Gresik by Express Bahari ferry at 9 AM.

--------------------------------------------------------------------- 

Demikian tips dan itinerary untuk kalian para traveler yang ingin mengunjungi Pulau Bawean di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Safe Journey!

That's all for the tips and itinerary for you all travelers who want to visit Bawean Island at Gresik Regency, East Java. Safe Journey!


* For more info about Bawean island: http://baweantourism.com/
* Local guide contacts: - 081249008255 (Mr. Subairi)
                                  - 08113342167 / 0819882967 (Mrs. Musyayana)

--------------------------------------------------------------------- 

Untuk cerita perjalanan saya di Bawean bisa dibaca di sini:
- [Road Less Traveled] Bawean, Perawan yang Mandiri

- [Road Less Traveled] Penasaran Ada Apa di Bawean? (PART 1)

- [Road Less Traveled] Penasaran Ada Apa di Bawean? (PART 2)

"It's not just about the destination, but the journey"

Thứ Bảy, 23 tháng 8, 2014

[Road Less Traveled] Penasaran Ada Apa di Bawean? (PART 2)


Cerita ini sambungan dari sini 

Kapal kayu yang kami tumpangi terus melaju di pesisir pulau Bawean. Sudah hampir setengah jam perjalanan sejak dari darat, namun pulau tujuan berikutnya masih di luar jarak pandang. Warna langit dan Laut Jawa yang membiru selalu menarik perhatian saya untuk menoleh ke arah kanan. Dari kejauhan itu nampak sesuatu berwarna putih yang cukup luas di tengah-tengah laut. Tak lain lagi itu adalah Pulau Noko, salah satu spot yang menjadi alasan para pelancong mengunjungi pulau Bawean.

"Kita nggak ke sana dulu, mas?" tanya saya sambil menunjuk ke arah Noko.
"Nanti, sekalian pulangnya aja. Sekarang kita ke Gili dulu," jawab mas Riri (local guide).

Putih-putih tipis di tengah cakrawala itu Pulau Noko
Rasa penasaran sekaligus cemas melanda pikiran ketika saya melihat jarum jam menunjukkan pukul 16:30. Saya nggak mau kehilangan momen di pulau Noko nanti. Dengan kata lain, hasil foto akan lebih bagus jika masih ada penerangan alami dari matahari.

Kapal kayu bermotor ini terlihat sudah tua, mungkin hampir sama umurnya dengan bapak pemiliknya. Kondisinya bisa terlihat dari beberapa kali si bapak membuang air yang masuk ke dek kapal dengan gayung. Tanpa rasa khawatir yang berlebih, ia tetap melaju semaksimal mungkin membelah birunya Laut Jawa

Sama seperti warga Bawean lainnya, bapak Danu (lupa nama aslinya) juga pernah merantau ke negeri Jiran beberapa tahun lalu. Belasan tahun ia bekerja di Malaysia sebagai kuli dan sudah pernah "mencicipi" hampir semua negara bagian, dari Johor hingga Terengganu. Dari penghasilan merantaunya itu, bapak Danu bisa menghidupi dirinya sendiri di luar negeri beserta keluarganya yang masih berada di Bawean.

Namun setelah sekian tahun ia merantau, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Rasa rindu akan keluarganya yang menarik ia untuk menetap di Bawean. Tadinya ia ingin membawa semua keluarganya untuk menetap di Malaysia. Namun, apa daya, izin tinggal di negara orang emang nggak semudah membalik telapak tangan. 

Pepohonan hijau layaknya hutan tampak menyelimuti sebagian besar Pulau Bawean dan pulau-pulau kecil di sekitarnya membuat mereka tampak tak berpenghuni, salah satunya Pulau Selayar. Pulau kecil yang menjulang tinggi ini hampir tak terlihat daratannya karena tertutup pepohonan lebat. Ada lagi Pulau Cina, pulau kosong yang baru beberapa hari lalu, sejak saya tiba, ditemukan mayat wanita tanpa kepala di pantainya. 

Isi bensin sambil jalan
Pulau Selayar tak berpenghuni
Air laut bening kebiruan menyambut kedatangan kami di Pulau Gili, begitu juga dengan para warganya yang mayoritas kaum wanita (ibu-ibu). Sementara, sebagian besar kaum pria sibuk di luar pulau demi menafkahi keluarga. Salah satu ibu yang terlihat lebih gaul (Ibu Ria, bukan nama asli) membawa kami berkeliling pulau. Pulau Gili tampak sepi sore itu karena para penghuninya lebih terbiasa berkumpul di salah satu pantai untuk saling bercengkerama.

Tidak seperti Bawean, Pulau Gili lebih kecil dan masih belum banyak fasilitas pendukung kehidupan. Listrik cuma mampir dari jam 5 sore hingga jam 10 malam saja. "Kita jadi susah mau telponan sama anak dan teman-teman di luar. Mau charge HP saja kita harus rebutan," cerita Bu Ria sambil sesekali tertawa kecil.

Merapat di Pulau Gili
Ibu Ria melanjutkan ceritanya tentang pulau yang ia anggap tak ada apa-apanya ini. Seakan-akan ia menyembunyikan rasa keluh akan kehidupannya yang jauh dari kata modern di balik senyumannya itu. Kedatangan tamu asing seperti kita-kita ini tentu saja sedikit memeriahkan suasana hati mereka. Sekilas saya merasakan empati, "Gimana rasanya ya kalo hidup di daerah terpencil kayak gini? Sebulannn aja. Gua tahan, gak, ya?" tanya saya dalam hati.

Tak berapa lama, Ibu Ria malah mengajukan pertanyaan yang membuat kami agak di shock-therapy.

"Kalian nginap di sini, ya?"
"Sehari aja sini.." pintanya dengan wajah memelas.

Andai kami punya waktu lebih, mungkin kami tidak akan menolak permintaan Ibu Ria. Namun, kami masih harus melanjutkan perjalanan, balapan waktu versus matahari menuju Pulau Noko. Saya bisa merasakan perasaan para warga Pulau Gili lewat obrolan kami dengan Ibu Ria. Kayaknya mereka ingin curhat, menyampaikan sesuatu yang selama ini membebani hati mereka. Suasana sepi di pulau terpencil menjadi rutinitas yang membosankan, makanya ada "hal kecil" yang baru pun menjadi suatu hal yang luar biasa bagi mereka. 

Suasana yang sepi nan damai di Pulau Gili
Kami langsung bergegas menuju kapal mengingat 45 menit lagi matahari akan terbenam. "Ngebut, pak! Ngebut!" teriak saya pada Pak Danu karena suara mesin yang cempreng. Kapal kecil itu terus ngebut, sengebut-ngebutnya, meski lebih cepat saya berlari dibandingkannya, hingga akhirnya tiba di Pulau Noko jam 6 sore lewat sedikit.

Lalu, apakah kami berhasil tiba tepat waktu? Hampir telat! Sinar terang matahari sudah hampir bersembunyi di balik pegunungan Pulau Bawean. Tanpa ba..bi..bu.. lagi, masing-masing langsung siap dengan gadget-nya. Pulau pasir di tengah laut ini memang menjadi andalan wisata Bawean, bahkan dari yang saya baca di salah satu artikel di internet, katanya keindahan Pulau Noko ini hampir bisa disamakan dengan pulau pasir yang ada di Maldives.

Di tengah-tengah pulaunya terdapat papan kayu hijau bertuliskan "Selamat Datang di Pulau Noko..." yang baru saja dipasang beberapa minggu yang lalu. Hamparan pasirnya yang seluas setengah lapangan bola mengundang kami untuk berkeliling sebentar cuma untuk sekedar menikmati hempasan ombak kecil di tepi pantai. Saya sedikit kehilangan momen keindahan maksimalnya karena hari sudah terlanjur agak gelap. Efek sampingnya, foto-foto jadi blur dan kurang bagus.

Benda paling tinggi di Pulau Noko


Bakal lebih bagus kalau terang
Seperti ini, nih.. momen sempurnanya (Sumber: kaskus.co.id)

Tentu saja saya sendiri juga tidak tahu seberapa indah pantai pasir di Maldives saat itu. Namun bagi saya, Pulau Noko sendiri sudah dapat menggambarkan secara jelas keindahan sebuah surga berupa pulau kecil  yang masih jarang terjamah bernama Pulau Bawean. 


Kaki-kaki dekil menuju pulau surga


"Leave nothing but footprints. Take nothing but pictures. Kill nothing but time"

(Maret 2014)

Thứ Bảy, 5 tháng 7, 2014

[Road Less Traveled] Penasaran Ada Apa di Bawean? (PART 1)

Pemandangan tepi jalan yang sayang untuk dilewatkan
Cerita ini sambungan dari sini

Laju motor saya pertahankan konstan di 40 km/jam. Saya sengaja melakukannya agar dapat merasakan angin yang sejuk sambil berjalan ditengah hamparan sawah yang luas. Pulau surga yang bernama Bawean itu berada di tengah Laut Jawa. Pulau ini seakan tak ada habisnya menawarkan berbagai macam keindahan alamnya yang membuat saya cukup terpukau. Dalam satu hari saya coba untuk menjelajah pulau ini, terutama lokasi-lokasi wisatanya yang wajib dikunjungi.

Hari masih pagi dan saya masih cukup lelah setelah perjalanan panjang 2 hari dengan kereta dan ferry. Naluri bertualang semakin excited dan seketika itu juga rasa lelah telah terlupakan begitu saja. Tanpa berlama-lama lagi, kami langsung beranjak dari penginapan untuk segera bertemu dengan hewan endemik pulau ini, Rusa Bawean.


1. Penangkaran Rusa Bawean

Lokasi penangkaran rusa berada agak ke tengah pulau. Kondisi jalan yang semakin sempit dan menanjak membuat motor yang saya bawa ngeden sekuat tenaga. Belum lagi harus melewati jalan offroad berbukit di tengah-tengah pepohonan rimbun. Yang bikin sulitnya justru karena tidak adanya plang penunjuk lokasi penangkaran selama di jalan. Pengunjung awam macam kita mana mungkin tahu ada spot wajib kunjung yang jalannya harus lewat hutan di belakang rumah orang..

Offroad menuju penangkaran rusa
Singkat cerita, akhirnya kami tiba di penangkaran Rusa Bawean yang letaknya di pedalaman hutan seperti kamp prajurit pemberontak. Penangkarannya cukup luas untuk beberapa rusa yang jumlahnya dapat dihitung dengan kedua tangan. Yang membedakan Rusa Bawean dengan rusa lainnya dapat terlihat dari ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Rusa muda memiliki bintik-bintik putih di tubuhnya hingga nanti pudar di usia dewasa.

Kata mas Riri (guide lokal), hewan yang terancam punah ini punya taring tajam di rahang bawahnya. Saya jadi penasaran untuk melihatnya lebih dekat, mungkin juga bisa sekaligus pegang dan kasih makan. Kamera sudah saya siapkan untuk mengambil pose-pose rusa dari beberapa angle. Namun ternyata, ini bukan seperti kandang kambing domba siap kurban. Minimal saya harus jadi menteri atau orang penting lainnya dulu agar bisa masuk ke dalam kandang. Yah, mau nggak mau saya terima nasib foto-foto dari balik jeruji kawat karatan aja, deh...

Kurang bagus posenya..
Ini juga kurang (anaknya)
Ok, not bad.
 

Puas foto-foto kawanan rusa yang tampaknya sudah bosan dengan kehadiran kami, maka perjalanan dilanjutkan kembali. Motor tetap melaju ke depan, tapi pandangan saya malah ke arah lain. Kepala ini terus geleng kiri-kanan karena memang pemandangannya terlalu luas untuk di lihat satu arah. Tujuan berikutnya adalah ke sebuah danau yang berada di tengah pulau yang bernama Danau Kastoba.

2. Danau Kastoba

Mengingat lokasinya berada di tengah pulau yang kontur jalannya semakin menanjak, maka lagi-lagi motor harus ngeden semaksimal mungkin. Motor kami parkir di sebelah rumah warga dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Yap, jika mau berkunjung ke Danau Kastoba kita harus trekking dulu melewati hutan di pinggir bukit selama sekitar 15 menit.


Trekking ke danau mistis
Hari ini danau nggak sepi seperti biasanya. Begitu kami sampai di atas, ternyata sudah ada sekelompok turis lain yang lebih dulu datang. Mereka datang jauh-jauh dari negeri jiran untuk mencari leluhur mereka di Bawean, kata guide-nya. Sejak dulu orang Bawean memang sudah memiliki tradisi merantau ke negeri seberang. Kebanyakan dari mereka akan menetap di sana hingga memiliki keturunan dan dikenal sebagai orang Boyan.

Danau Kastoba ini cukup unik karena letaknya di atas bukit dan dikelilingi hutan yang membuat suasananya menjadi asri, dingin, sekaligus agak mistis. Tentu saja danau ini menyimpan beberapa cerita misteri yang cuma mitos dan bahkan kejadian nyata. 

Saya sempat ngomong gini ke yang lainnya, "Kayaknya saya nggak bakal berani ke sini kalau sendirian"

"Saya juga nggak mau, kali.." timpal mas Riri.

Mas Riri langsung saja bercerita tentang legenda danau ini. Sempat dipercaya, dulu di sekitar sini ada sebuah pohon raksasa yang bernama Kastoba. Namun sekarang pohon itu sudah tak terlihat lagi. Menurut mitos, dahulu kala ada seorang pengembara yang matanya buta. Ia sudah kesana kemari untuk mencari pengobatan, namun tak kunjung berhasil.

Hingga suatu saat ia mendengar suatu percakapan ketika ia sedang beristirahat di bawah pohon raksasa yang besar. Ternyata ada 2 gagak putih yang lagi asyik bercengkerama. Si salah satu gagak bercerita pada gagak satunya lagi kalau ia sedang ditugaskan oleh dewa untuk menjaga pohon Kastoba ini. Daun pohon ini punya keajaiban untuk menyembuhkan segala penyakit, namun dewa tidak mau jika hal ini diketahui manusia.

Namun terlanjur sudah terdengar, si pengembara memetik daunnya dan mengusap pada kedua matanya. Seketika itu juga ia langsung celik matanya. Dewa pun marah akan rahasianya yang terbongkar. Ia mengusir kedua gagak putih dan mencabut pohon raksasa itu hingga ke akarnya. Batang pohon dibuang ke pulau sebelah, Pulau Gili. Oleh karena itu, di pulau Gili ada dataran pasir yang memanjang di laut seperti jembatan yang dianggap warga itu adalah batang dari Pohon Raksasa Kastoba.


Orang Malaysia demen main air di Danau Kastoba
Hmmm... cerita yang cukup menghibur sambil sementara ngaso di sebuah pos kayu kecil. Selain ada pos kecil, ada pula toilet dan beranda yang terlihat sudah tak terurus sama sekali. Penasaran akan reruntuhan fasilitas tersebut, maka mas Riri kembali cerita. Kali ini agak serius karena ceritanya benar-benar dari kejadian nyata.




(Butuh imajinasi/dibayangkan biar ceritanya makin terasa)


Belasan tahun lalu ada seorang peneliti berkebangsaan Inggris yang melakukan penjelajahan sekaligus penelitian di Danau Kastoba. Dialah orang yang membangun pos dan toilet di sini. Suatu ketika, ia mencoba diving untuk mengukur kedalaman dan meneliti lebih jauh. Yang bikin seremnya, ternyata sang peneliti nggak kunjung keluar ke permukaan danau! Sudah berhari-hari berlalu, namun si bule sudah tak pernah terlihat lagi. Pencarian juga sudah dilakukan oleh warga-warga sekitar, tapi apa daya. Di pulau kecil ini dulu nggak ada peralatan canggih untuk melakukan hal demikian.

Tak disangka, beberapa minggu kemudian, secara ajaib ia ditemukan di tepi pantai yang tentu saja lokasinya sangat jauh dari Danau Kastoba yang berada di atas bukit. Begitu ditemukan warga, sang peneliti terlihat masih mengenakan peralatan diving lengkap dan warna tubuhnya sudah pucat. Ya, sudah menjadi jasad!

Secara logika sotoy, kemungkinan sang peneliti itu terhisap pusaran air yang ada di dasar danau. Pusaran itu membawa dirinya ke dalam liang-liang gua. Entah di mana dan lewat mana jalur gua itu bisa ada jalan keluar di sekitar pantai.

Sebelumnya, Riri juga sempat cerita ketika sedang nyetir motor di jalan, bahwa di salah satu sisi pulau ada pantai yang airnya asin dan juga tawar. Diperkirakan air tawarnya itu tak lain lagi berasal dari Danau Kastoba. Sampai sekarang belum ada penelitian lagi di Danau Kastoba, sehingga gua di dasar tanah yang menyebabkan pusaran air itu masih tetap menjadi misteri. Saya yakin, cerita ini bakal terasa menyeramkan jika kalian sudah menonton film Sanctum.


Suasana dingin dan heningnya benar-benar mencekam
"Nyawa" sudah terkumpul dan saatnya kita turun bukit meninggalkan orang-orang Melayu yang dari tadi terlihat asyik main basah-basahan. Roda motor terus berputar seiring panas matahari yang menyengat. Dengan hanya berbekal "kompas berjalan", kami jadi tahu kalau sekarang kami lagi berada di bagian utara pulau, tepatnya di kecamatan Tambak.

Di Bawean memang terlihat masih banyak tanah kosong yang biasanya berupa sawah. Namun ada 1 lahan luas kosong di daerah Tanjung Ori (Tambak) yang menarik perhatian saya. Lantas saya tepuklah pundak si mas Riri yang saat itu lagi nyetir motor supaya kami sekalian mampir ke tempat tersebut.

3. Bandara Tak Bernama

Ooo... ternyata ini adalah sebuah landasan pesawat terbang. Landasan sepanjang 900m ini terlihat sangat mengenaskan, mengingat pada Juni 2014 rencananya bandara bakal diresmikan. Dengan batas waktu yang singkat itu, pemda setempat harus "mengejar" dengan menambah segala macam fasilitas penunjang layaknya sebuah bandara lokal.

Karena terbengkalai, kerusakan macam retak bisa ditemukan di kiri-kanan. Yang parahnya, ternyata jalurnya nggak rata di bagian tengahnya! Bahkan, akhir Juni ini saya sempat bertanya lagi ke mas Riri perihal progress-nya. Yak, hampir nggak ada perubahan sama sekali sejak saya ke sana. Kabarnya, maskapai Lion Air ingin membuka jalur Juanda (SBY) - Bawean. Ya, tapi kapan beresnya bapak bupati?


Hingga tulisan ini di post, bandara ini bahkan belum juga bernama
Lahan itu malah lebih terlihat seperti proyek yang ditinggalkan ketimbang proyek yang belum selesai. Untuk sementara, jalanan panjang ini dimanfaatkan oleh warga-warga sekitar untuk memuaskan dahaga mereka akan adrenalin. Ya, apalagi kalau bukan kebut-kebutan? Tapi sekarang siang bolong begini mana ada yang mau datang ke sini. Nggak terlihat ada siapapun kecuali kami berempat dan seekor kebo yang sedang nyebrang landasan dengan santainya.

Sudah lewat tengah hari dan perjalanan hanya tersisa beberapa jam lagi sebelum gelap datang. Kami berharap cemas, apa kami masih sempat kejar waktu untuk mengunjungi Pulau Noko yang menjadi highlight utama dalam perjalanan saya kali ini?


Ceritanya kurang? Ke sini, dah!

"Leave nothing but footprints. Take nothing but pictures. Kill nothing but time"

(Maret 2014)

Thứ Tư, 11 tháng 6, 2014

[Road Less Traveled] Bawean: The Self-Dependent "Virgin"

Sandy island of Noko
Huh?! Bawean? Is it kinda a cake? Where can I buy it? Obviously, there are still many who don't know if it is an island called Bawean. It is not yet so famous for the newbies which make the nature of this island is still preserved. Surely, I felt so lucky to be one of the tourists who have visited here.

As far as my sights toward to the horizon, all I can see is clear blue sky; the blue Sea of Java; and some of small islands covered in green. The small motorboat which I rode on was in maximum speed. I just couldn't wait to run the chance of having my footprints onto the "little paradise" called Noko Island. If I recalled my struggle to reach this place a couple hours ago, I believed everything has been paid off by the magnificent view of Bawean Island.

A couple hours ago...

Sensation of having 12 hours inside the Kertajaya train has passed. Now, I have to get on board a ferry Gresik-Bawean at 9:00 PM. Subairi (Riri), Bawean local guide accompanied me, and also Benny and Anton from Surabaya will be my companion along the trip.


Bawean is just a small island in the middle Sea of Java, precisely at the north of Gresik. The island which still "virgin" interest me to be explored. My visit this time not only a mere enjoy the landscape, but to explore, dig up some infos and find out local traditions. Certainly, Riri will be bombarded with a lot of questions from me.


Hah?! Bawean? Nama jenis kue apa, tuh? Belinya di mana ya? Jelas saja masih banyak yang belum tahu kalau Bawean itu adalah sebuah pulau. Namanya yang belum begitu tersohor di telinga pengelana awam membuat pulau ini masih terjaga alami. Tentunya, saya merasa beruntung menjadi salah satu dari sebagian turis yang pernah berkunjung ke sini.

Sejauh mata saya memandang ke arah garis horizon, yang terlihat hanya langit cerah; laut Jawa yang biru; dan beberapa gugusan pulau kecil yang diselimuti pepohonan hijau. Meski perahu kecil bermotor yang saya tumpangi sudah ngebut semaksimal mungkin, tapi tetap saja saya tak sabar lagi untuk segera menjejakkan kaki di sebuah pulau "surga" kecil yang bernama Pulau Noko. Jika mengingat kembali perjuangan saya untuk mencapai tempat ini beberapa jam yang lalu, saya yakin semuanya sudah terbayar lunas oleh pemandangan Pulau Bawean yang sangat indah.

Beberapa jam yang lalu...

Sensasi 12 jam lebih di dalam kereta Kertajaya telah berlalu, kini saya harus naik kapal ferry Gresik-Bawean pada jam 9 malam. Kali ini saya ditemani oleh narasumber lokal Bawean, bernama Subairi (mas Riri), dan juga Benny dan Anton asal Surabaya yang akan jadi teman perjalananan saya selama di Bawean nanti.

Bawean memang hanya sebuah pulau kecil di Laut Jawa, tepatnya di utara Gresik. Pulaunya yang masih "perawan" menarik minat saya untuk dijelajahi. Tapi tujuan saya kali ini bukan cuma sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan saja, namun juga untuk menjelajah, menggali info serta mengetahui tradisi orang Bawean. Dan pastinya Riri bakal dihujani banyak pertanyaan dari saya.

Bawean is right here (Source: Google Maps)
Morning came down as the sun rose up from behind of horizon. At that moment I could see the silhouette of Bawean Island covered in morning fog. The ferry that has sailed Gresik-Bawean for 8 hours finally docked at a concrete wharf. Hundreds of people were seen packed at the edge of that wharf to await their relatives. Without lingering from that crowd, we immediately rented motorcycles to the home stay to prepare anything before the exploration began.

Pagi menjelang ketika mentari baru saja muncul dari balik garis horizon. Pada saat itu juga saya bisa melihat siluet pulau Bawean yang diselimuti kabut pagi. Kapal ferry besar yang telah menempuh jalur Gresik-Bawean selama 8 jam akhirnya menepi di sebuah dermaga beton. Ratusan warga terlihat memadati bibir dermaga itu untuk menanti kerabat mereka masing-masing. Tak berlama-lama dari keramaian itu, kami langsung sewa ojek menuju home stay untuk beres-beres dahulu sebelum penjelajahan dimulai.

The sun greeted me as soon as I arrived. Perfecto!

Couldn't wait for their relatives to arrive

People's daily necessity are imported from Java


We were soon traveling around the Bawean with our motors. Speaking of small island, initially I thought Bawean was an island which was far from modern culture. But, I pulled back my word when I traveled around island's outer ring road. Approximately, 85% of the main road had been covered with asphalt and paving block neatly. Residencies were also seen along the street, such a common situation at the main roads in Java.

Riri told that Gresik government had already began to provide assistance for Bawean infrastructure by tiled the main roads. But eventually, most of paving block roads created by the local self-provided. Dare to say, most of infrastructure progress in this small island were from local's own sweat. Limitation are sometimes forces anyone to try to be self-dependent.

Since long ago Bawean people have proud tradition until this day. It's to wander about. Major of them would wander to neighbor countries, Malaysia and Singapore. They have their own brotherhood community at there which called Boyan People. Even some of them already held an important position there, as Riri told me so.

Kami pun segera melakukan perjalanan mengelilingi Bawean dengan motor. Ngomong-ngomong soal pulau kecil, awalnya saya kira Bawean itu pulau yang masih jauh dari kata modern. Namun pikiran itu tak benar ketika saya mengelilingi jalanan terluar pulau ini. Sekitar 85% jalan utama sudah tertata rapi dengan aspal dan conblock. Perumahan juga terlihat berjejer di sepanjang jalan, sama seperti suasana jalan raya di pulau Jawa. 

Riri menceritakan bahwa pemerintah Gresik memang sudah mulai memberi bantuan infrastruktur Bawean dengan mengaspal jalan-jalan utama. Namun ternyata, sebagian besar jalan raya conblock dibangun atas swadaya warga lokal. Dapat dikatakan, hampir seluruh kemajuan prasarana di pulau kecil ini adalah hasil jerih payah setiap warganya. Keterbatasan memang terkadang membuat siapapun jadi mau lebih berusaha untuk mandiri. 

Sejak dulu orang Bawean sudah mempunyai tradisi merantau yang cukup kental hingga sekarang. Mayoritasnya merantau ke negeri jiran dan Singapura. Di sana mereka sudah memiliki komunitas seperti keluarga sendiri yang disebut Orang Boyan. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki posisi sebagai orang penting di sana, menurut penuturan mas Riri sendiri. 


Always stopped to side road to took these landscapes
For those who already successful in neighbor countries, they will come back to hometown and bring "gifts" for their families. No wonder if there are so many emptied big homes here. They buy new home to be renovated into good one, then they leave it empty due to family still live in their current home. Yes, Bawean's economy seems driven indirectly by foreign currency.

Living on small island certainly required to import everything from nearby island. All necessities are more expensive than in the capital city as usual. But the expensive thing impacts on the local's life standard which becomes high prestige. During the trip, I hardly to find anyone who rode a bike. Going to everywhere always driving their own motor or car. Public transportation seems already extinct. 3 of 5 locals can be classified into capable economy, said Riri. Yes, it seems their wandering tradition has a significant effect for their hometown.

However, the story becomes different when I had a little chat with Ening on ferry. Ening seemed disagree with the wandering concept these days. He argued that those who wandered to neighbor countries are the one who lose (give up) to situation. They create an image of "begging" in foreign countries. There also another opinion from Riri, 

"Actually, we can't address it as 'wandering'. Then, the locals wandered to neighbor countries were because they had guts to take risks, but now is different... They already had relatives there. They just share the living and find for a job," Riri explained seriously.

Bagi mereka yang sudah sukses di negeri tetangga, mereka bakal kembali ke kampung dengan membawa "hadiah" untuk para keluarganya. Maka tak heran bila di sini cukup banyak rumah besar yang kosong. Mereka membeli rumah baru, kemudian merenovasi jadi bagus, lalu didiamkan saja (tidak ditinggali) karena keluarga yang lain masih tinggal di rumah yang lama. Ya, perekonomian orang Bawean menjadi terdorong secara tak langsung oleh kurs mata uang asing.

Hidup di sebuah pulau kecil pasti mengharuskan segala sesuatu untuk import dari pulau lain. Apapun terasa lebih mahal di sini dari harga di ibu kota seperti biasanya. Namun, segala sesuatu yang mahal berdampak pada standar hidup orang Bawean yang menjadi tinggi aka gengsi. Selama di sana, saya hampir tidak melihat ada warga yang sedang mengendarai sepeda. Kemana-mana selalu menggunakan motor dan mobil, dan yang namanya angkot saya rasa sudah punah. 3 dari 5 warga Bawean dapat digolongkan ke dalam perekonomian mampu, menurut Riri. Ya, nampaknya tradisi merantau mereka membawa dampak yang signifikan pada kampung halaman.

Namun, berbeda ceritanya ketika saya ngobrol dengan Ening di kapal ferry. Ening agak kurang setuju dengan konsep merantau Bawean zaman sekarang. Dia berpendapat bahwa seseorang yang merantau ke negeri tetangga adalah dia yang kalah, karena terkesan "minta-minta" atau ngemis di negeri orang. Ada opini lain juga tentang merantau dari Riri, 

"Sebenarnya untuk sekarang udah nggak bisa lagi disebut sebagai 'merantau'. Kalau dulu orang Bawean merantau ke negeri seberang emang karena nekad, tapi sekarang beda... Di sana udah ada saudara. Tinggal numpang terus cari kerjaan," Riri menjelaskan dengan serius.


Bawean children, Surabaya' boy, and Jakarta's boy
Another unique facts about wandering were not until there. I was surprised when I learned that most of the elderly who once wandered to neighbor countries, actually they had never been stepped a foot in Java island! Those who ever been to Malaysia and Singapura amazed to witness high-rise buildings, escalators, and elevators. Afterward they said, 

"Wooww... such amazing things like these can't be found in Indonesia!" Hahahaha... They assumed Indonesia is only limited in Bawean!

I had a chance to meet with a middle-aged man named Kholisun while on the ferry. He was originated from Surabaya, however he spent half of his life in that small island as a teacher. Accorded to him, Bawean was no longer a small isolated island. Where the 3 important things for life support had advanced. Call them transportation, communication, and economy are provided in here. The small island has now turned into an independent island.

So, how about the leisure travel? Relax, beaches in Bawean are also scenic. Because it's still "virgin", surely the beach and the sea water is still pristine and crystal clear. I also had a chat with Wildan from Department of Fishery who had just come back from Karimun Jawa. For about 2 weeks he, Riri, and their team had a comparative study there. Accorded to their researched, the marine life in Bawean is more abundant than in Karimun Jawa.

Unfortunately at that time I, Benny, and Anton were not be able to enjoy the under sea by snorkeling. Yes, what a pity. Diving and snorkeling facility for tourists is still not available at that time. Even so, a man offered us and he said, "If you want to go diving, just let me know..". My assumption, maybe that man was the only one who could rent diving equipments at the time.

Our disappointment could be replaced by visited the Bawean's main attraction named Noko island. It's a small sandy island in the middle of the sea. The island itself made by a long sandy track with the middle part submerged in shallow sea water. This panoramic landscape a bit similar with the pictures of beaches in Maldives which I ever saw them on the internet. I traveled into the land, and I witnessed the landscape was also stunningly beautiful. As I drove my motor around the island, my eyes couldn't stop to see vast rice fields that gradually turned to yellow and range of rocky hills towered in the middle.

Fakta unik lain tentang merantau ternyata tak sampai di situ saja. Saya kaget ketika mengetahui bahwa sebagian lansia yang dulunya pernah merantau ke negeri tetangga, ternyata mereka belum pernah menginjak yang namanya Pulau Jawa! Mereka yang pernah ke Malaysia dan Singapura terbengong-bengong melihat ratusan gedung tinggi, eskalator, dan lift. Lalu mereka pun berkata, 

"Wihh... di Indonesia mah ngga ada yang kayak gini, nih!
Hahahaha... bagi mereka Indonesia cuma sebatas di Bawean aja!

Saya sempat bertemu dengan seorang bapak bernama Kholisun saat di kapal ferry. Beliau adalah orang Surabaya, namun separuh hidupnya ia habiskan di pulau kecil itu sebagai pendidik. Menurut beliau, Bawean sudah bukan lagi sebagai pulau kecil yang terisolir. Di mana 3 hal penunjang utama kehidupan sudah maju. Sebut saja transportasi, komunikasi, dan ekonomi semuanya tersedia di Bawean. Pulau kecil itu kini telah berubah menjadi pulau yang mandiri.

Lalu, bagaimana dengan acara jalan-jalan senangnya? Tenang, pantai-pantai di Bawean juga nggak kalah indahnya. Karena masih "perawan", tentu saja pantai dan lautnya masih bersih dan jernih. Saya juga sempat ngobrol dengan Wildan dari Dinas Perikanan yang baru saja pulang dari Karimun Jawa. Selama sekitar 2 minggu dia, Riri, dan tim lainnya melakukan studi banding di sana. Menurut hasil penelitiannya, ternyata biota laut di Bawean lebih melimpah dibandingkan di Karimun Jawa.

Sayangnya, pada saat itu saya, Benny, dan Anton tidak bisa menikmati keindahannya dengan ber-snorkeling ria. Ya, sangat disayangkan sekali, karena di sini fasilitas untuk snorkeling dan diving turis masih belum tersedia dengan sempurna. Meski begitu, kami sempat ditawari seorang bapak dan ia berkata, "Kalau mau nyelam, bisa tolong kasih tahu saya aja, ya...". Asumsi saya, kemungkinan bapak itu satu-satunya yang dapat menyewakan alat selam pada saat itu.

Untungnya kekecewaan kami dapat tergantikan dengan mengunjungi main attraction-nya Bawean yang bernama Pulau Noko. Yaitu sebuah pulau kecil yang hanya berupa pasir di tengah-tengah laut. Pulau pasirnya memanjang dan di bagian tengahnya terendam air laut. Pemandangan ini sepintas mirip dengan foto-foto pantai di Maldives yang saya pernah lihat di internet. Wisata di bagian dalam pulaunya pun juga nggak kalah menarik. Selama kami berkendara bebek besi mengitari pulau, mata kami disuguhkan persawahan luas yang tampak menguning beserta jajaran bukit batu yang menjulang di tengahnya. 


I didn't get bored to see this heavenly landscape


(Source: wikipedia.org)
Must visit place, Noko-Gili sand island (Source: kaskus.co.id)

There is a unique fact about the tourists who ever visited here. Averagely, the tourists come from neighboring countries. Mostly, they are the Boyan's descendant who purposely come with the intention to find their ancestors, told Riri. That's why, I had chance to meet some teens who talked with us using Upin-Ipin language.

To reach Bawean, ferry/boat is the only option for this time, with different class, schedule, speed, and price (you can check the link below). There already is a plane runway, but what can be expected in Indo.. project has not completed until now. Somehow the fund has "lost" to nowhere.

No worries for accommodation... There're some hotels and lodges here with reasonable price, about Rp75.000 - Rp500.000. I suggest to rent a vehicle to facilitate your exploration. Since I didn't want the trip just a mere travel, I accompanied by local guide to channel my passion for travel journalism.

Bawean should be aware of its tourism potential. The locals have formed a team by now to promote their hometown via its own website. However, the efforts to commercialize this island brings both pros and cons. For those who agree, tourism is surely a profitable. But there is other "party" who disagree due to worry that westernization will overtake their tradition.

"They are too worried if those bikini-clads will invade the island," said Riri.

Recently, Riri and the team will strive forth to ensure their people to aware of the importance to preserve culture and nature, so the tourism will be increased.

Ada cerita unik tentang turis yang pernah datang ke sini. Rata-rata turis yang berkunjung ternyata datang dari negeri seberang. Biasanya mereka adalah keturunan orang Boyan yang memang sengaja datang kemari untuk mencari leluhur mereka, cerita Riri. Makanya, pas saya di sana sempat bertemu dengan gerombolan muda-mudi yang mengajak kami ngobrol dengan bahasa Upin-Ipin.

Untuk mencapai Bawean, saat ini hanya bisa menggunakan kapal ferry dengan kelas, jadwal, kecepatan, dan harga yang berbeda-beda (bisa lihat link di bawah). Sudah ada landasan pesawat, tapi ya namanya juga Indo.. proyeknya belum selesai hingga sekarang. Entah "hilang" kemana dananya itu.

Soal akomodasi nggak usah khawatir... Di sini sudah tersedia beberapa penginapan dengan harga relatif murah, kisaran Rp75.000 - Rp500.000. Saya sarankan untuk menyewa kendaraan untuk memudahkan penjelajahan kalian. Berhubung saya nggak cuma jalan-jalan saja, maka saya menggunakan jasa guide lokal demi menyalurkan hasrat saya dalam travel journalism.  

Sudah seharusnya Bawean sadar akan potensi wisatanya. Warganya kini sudah membentuk tim dan mulai mempromosikan kampung mereka lewat situs yang mereka buat sendiri pula. Namun, usaha untuk mengkomersilkan pulau ini mendatangkan pro dan kontra. Bagi mereka yang setuju, tentunya wisata dapat mendatangkan keuntungan. Tapi ada "pihak" lain yang tak setuju dengan alasan khawatir bila budaya barat bisa masuk.

"Mereka takut jika turis-turis yang berbikini bakal menginvasi pulau," cerita Riri.

Untuk saat ini, Riri beserta tim akan berusaha untuk memberi penyuluhan pada warga Bawean akan pentingnya untuk melestarikan alam dan budaya mereka, sehingga turis yang berdatangan pun semakin bertambah.

Incomplete airport
Gresik-Bawean 18 hours trip by this ferry

Benny, Subairi, and Anton


"It's not about the destination, but the journey"

Complete guide website about Bawean:
http://baweantourism.com/

Any questions about local guide?
- Subairi (Mr. Riri): 081249008255
- Mrs. Yana         : 0819882967/08113342167 


*UPDATE:
- Snorkeling facility is now available since Dec 2014.

- In end of January 2016, the airport Harun Thohir has been operating. Route is Juanda airport (Surabaya) - Harun Thohir (Bawean). Small plane with about 15 passengers capacity, twice in a week (Tuesday and Thursday)

 

"It's not just about the destination, but the journey"

(March 2014)